Minggu, 01 September 2013

Aku Mengeja



Semalam aku mengeja tentang arti sebuah hidup
Lama aku lupa, karena membatu dalam pelukan realita
Dan itu bukan aku.
Angin memaksa agar air menjadi minyak
Namun tak mungkin.
Air tetaplah air.
Kokoh dengan prinsip.
Tapi waktu yang lalu, air tergoda rayuang sang angin
Hingga sekarang ia lupa siapa dia sesungguhnya
Teramat sedih mengingatnya.
Air, kau harus menjadi minyak.
Angin terus berhembus dan berbisik dengan kata itu.
Air ingin menolak tapi, ia kalah dengan realita.
Hingga ia tunduk, bahkan mengabdi pada angin
Dan kini ia sadar bahwa ia tak mungkin jadi minyak karena dia air.
Air tetaplah air.
Air itu lembut namun kokoh.
Air sering terabaikan tapi ia punya kekuatan besar.
Air mulai paham dengan hal itu
Air susun kembali tangga yang berserakan itu
Tangga itu sudah dirusak oleh terpaan angin
Tapi air tetap teguh, kembali pada prinsipnya
Walau tertatih ia kembali, ia yakin bahwa ia akan menemukan jati dirinya.
Pada esok ia akan berteriak bahwa ia bisa meraih asa-asanya
Pada senja ia akan bernyanyi bahwa ia bisa meraih mimpinya.

Go back.260113

Ah..............



Pelan embun menetes.
Mendera jiwa dalam dahaga
Keindahan yang tak mudah terpahatkan
Namun semua itu serasa palsu
Bagai sandiwara dalam sebuah drama
Kata lupa yang dulu selalu bersembunyi
Kata lupa yang begitu takut terlihat waktu
Kini nampak tidak malu-malu
Terang-terangan memamerkan lengkuk tubuhnya
Aku terpekat, aku tergoda
Aku ingin disapa lupa
Hingga tak ingat dia dan kata-katanya
Sekali lagi aku merasa tertipu
Sekali lagi aku merasa dibodoh'i
Apakah cukup disini aku mengejar cinta?
Kemudian lari kebelakang kembali pulang
Ah........
Aku hanya akan selalu berharap :
Bahwa esok akan jauh lebih indah

Ku Harap Kau



Saudariku……..
Tersenyumlah saat kau baca bait-bait puisiku
Yang terangkum dari rajutan huruf
Tercipta dari untaian kata
Dan  terlahirlah untaian kalimat
Tersampaikan lewat sang tinta
Yang bermuara dari dasar hati
Kau tahu Mar’atussholihah….......?
Putihnya mega tak seputih kesetiannya
Beningnya zam-zam tak sebening ketulusannya
Lembutnya bayu yang berhembus sepoi
Tak selembut ucapan perilakunya
Ia potongn surga yang terjatuh
Ia laksana oase di tengah gurun
Ia jaga mahkotanya dari tangan serigala jagat maya
Ia perhiasan dunia yang nyata
Tiada tandingnya
Hatinya terjaga dari butiran pembumbungan dada
Prinsipnya kokoh laksana benteng raksasa
Ia bisa sekeras kaum Adam
Dan semanja, selucu bocah dini
Kau tahu…….? Surga merindunya
Ku harap kau jadi sepertinya

Nada-Nada Cintaku



Kelam sisi jiwa
Rasa memeluknya
Tak bersisa
Hanya debu.
            Dipenghujung rindu
            Aku terdampar
            Di tanda sunyi dalam ruangan
            Tak bisa terjemahkan
            Lewat nada-nada cintaku
Cinta itu senyap
Hilang,
Entah terlupa atau lenyap
            Hitam meluap
            Hembusan nafas panjangku menahan
            Di kabut malam yang tak berhias
            Merayap kepada esok
            Dengan untaian angan-angan
Kelam sisi jiwa
Rasa memeluknya
Tak tersisa
Hanya debu

“revisi”al-hikmah, 0605011

Armada Iblis



Berayun-ayun di bawah gerimis
Melintas berderap di kala hampa
Beribu suara menggema
Bisik angan entah kemana     
Aku mati hati
         Buta
         Tuli
         Tak peduli neraka
Rohku mengabdi nafsu
Sakit
Meronta
Tiada kokoh hati kembali
Putih suci menghitam dalam rengkuh iblis

“oase kerinduan”kelas mungil, ...05010