Minggu, 01 September 2013

Kesetiaan Cinta



Bagai induk ayam yang anaknya di ganggu
Kalian begitu...
Dan aku tak suka.
Bagiku cinta lebih indah
Dari pada kematian
            Di alam bebas bermata langit
            Bermulut bisu.
            Menjadi saksi yang terindah
            Ketika rohku terbawa angin
            Dijinjing malaikat izroil
            Aku kosong menjelma tiada
Lahir sejarah sepahit empedu
Yang kalian cipta...
Yang kalian ukir...
Lewat pahat kata acuhmu
Menoreh luka...
Hingga ku bertindak sesuka
Bagiku itu kesetiaan cinta

“Bengkel sastra”kelas munggil, 0805010

Manisku Terenggut



Bagai angin bahorok
Gagalkan panen tembakau
Membatu aku di tanggan kasarmu
Memelas
Dari pinggir jalan kau pungut aku
Bukan berarti secawan anggur manis
Yang bebas dicicip dan diteguk
Tak ada kuasa meski aku berkawan api
−padam
Membatu aku di tanggan kasarmu
Lemas
Tak berdaya
:iblis

“oase kerinduan”kelas mungil,0705010

Nyawaku Raib



Merah muncrat dari sayap mungilku
Ketika kau robek dengan nafsu siletmu
Aku terpulas di tangan iblis
Tanggan maut yang lalu menyatu
         Remang suasana berubah
         Bagai kilat menampar bumi
         Tatapmu padaku...
Terlihat tajam..
Ku bagai pendosa yang melukaimu
Angan jendelaku kau lantahkan
Kau tertawa dengan hinamu
Saat ku terkulai rapuh nganga luka
Aku senyap
Kemudian hampa
Kaku nyawaku raib
Sejarahku berakhir
Pada dongeng yang tak layak terceritakan
Untuk alam yang terbungkam

0605010

Sajak Untuk Perenung



Berjalan di rotasi bumi
Siang dan malam terus saja berlayar
Bersikap benar walau salah
Bersikap menang walau kalah
Merasa raja walaupun hamba
Terus dan terus ia menolak kebenaran
Uang yang ia agungkan
Jabatan yang ia kejar
Merasa tak ada yang mengalahkannya
Tak pandang berapa dosa ia perbuat
Miras, judi, bahkan zina
Menjadi makanan pokok baginya
Ia tak pernah sadar apalagi ingat
Akan siapa tuhannya
Akan siapa penciptanya
Akan siapa yang berkuasa
Ia tuli dan buta akan secercah kebenaran
Berkuasa...
Berkuasa induk dalam otaknya
Ia mayat...
Mayat yang bernyawa
Ia tak mengerti arti hidup
Ia tak paham hakekat makhluk
Ia rendah, begitu hina
Setan yang berbisik
Menjadi raja yang selalu dipuja
Ia budak para setan
Budak nafsunya sendiri
Hingga izroil datang
Membawa amanah dari-Nya
Untuk menebar maut padanya
Izroil cabut nyawanya
Perlahan tapi pasti
Sedikit...
Terus...
Perlahan...kembali di abaikan
Ia tak tak punya malu pada izroil
Ia tawarkan seraya tertawa
Benda haram padanya
Bodoh...
Sungguh tolol.
Ialah manusia yang berakal
Manusia yang lupa
Pada hidup setelah hidup
Kembali izroil cabut nyawanya
Pelan...
Pelan...
Dan berhasil
Kini tinggal jasadnya
Jasad manusia yang berakal
Sesamanya terpaksa mengangkatnya
Sampai keliang kuburnya
Sebenarnya bumi tak menerimanya
Ia menyempit
Hingga tertutup liang kuburnya
Munkar nakir teman setia dalam harinya
Siksaan  kini menjadi makanan utama baginya
Ia tak kenal tuhannya
Ia tak kenal nabinyya
Ia lupa kitabnya
Bahkan agamanya
Hura-hura yang dilakukan semasa hidupnya
Ia di pukul...
Ia mati....
Hidup kembali
Pukul lagi
Lagi-lagi mati
Begitu seterusnya
Hingga hari kebangkitan tiba


2009